Pernah dengar soal gaya hidup slow living?
Sebagai informasi, slow living adalah sebuah seni dalam menjalani hidup secara pelan, fokus pada mindful atau kesadaran dan mencari makna. Slow living tidak hanya mengajarkan kita cara bertahan hidup, melainkan benar-benar menikmati hidup. Dengan menerapkan prinsip hidup slow living, ritme hidup diperlambat, seseorang perlu menghargai setiap momen kecil, dan lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas.
Slow living dan hidup santai meskipun kelihatannya sama, akan tetapi secara makna mendalam kedua hal itu berbeda. Slow living itu hidup dengan makna dan kesadaran, sedangkan hidup santai adalah menjalani hidup dengan menghindari tekanan tanpa memikirkan 'apa, kenapa, dan bagaimana' untuk mendapatkan suatu pelajaran hidup. Slow living menjalani kehidupan secara lambat untuk menikmati sebuah proses berpikir dan proses menjalani hidup, menemukan kontrol dan memperoleh kesimpulan. Sedangkan hidup santai itu hanya menginginkan kenyamanan tanpa niat belajar. Orang yang menerapkan prinsip hidup slow living memiliki skala prioritas dan tujuan hidup yang jelas, mereka bergerak lambat namun tidak diam, mereka menunda sesuatu untuk mengambil langkah yang tepat. Sedangkan orang yang hidupnya santai biasanya tidak memiliki tujuan hidup, hidupnya mengalir begitu saja, mereka lebih memilih tetap berada dalam zona nyaman daripada keluar dari zona nyaman itu untuk berusaha menjadi pribadi yang bertumbuh. Orang yang slow living hidupnya lebih produktif walaupun dikerjakannya secara lambat, tapi orang yang santai lebih suka menunda-nunda pekerjaan.
Sejarah singkat Slow living.
Slow living bermula dari sebuah gerakan yang digerakkan oleh jurnalis dan aktivis dari Italia pada tahun 1986. Gerakan itu bernama 'Slow Food'. Gerakan ini menentang makanan cepat saji atau yang lebih dikenal dengan kata 'fast food'. Prinsip dari Slow food adalah menikmati makanan tradisional dan lokal, menghargai proses pembuatan makanan, dan menolak budaya instan.
Dari sini terlahir sebuah pemikiran yang lebih berkembang lagi mengambil dari prinsip hidup slow food. Menikmati makanan tradisional dan lokal berkembang menjadi menikmati hidup, menghargai proses pembuatan makanan berkembang menjadi menghargai setiap hal dan proses dalam hidup, dan menolak budaya instan berkembang menjadi menolak sesuatu yang serba cepat, membutuhkan multitasking, dan mengikuti kecepatan arus trend atau hal apa saja yang tidak selalu baik.
Pada tahun 2004, Carl Honore asal Kanada juga pernah membuat buku yang berjudul "In Praise Of Slow". Buku ini mengajak kita untuk menjalani hidup lebih lambat namun bermakna.
Cara menerapkan gaya hidup Slow Living ;
1. Memulai hari dengan rutinitas yang bermanfaat. Misalnya ; beribadah, menyiapkan sarapan, olahraga, atau mengerjakan apa saja yang bermanfaat.
2. Fokus pada satu pekerjaan, menghindari multitasking.
Tapi menurut aku yang seorang ibu dengan dua anak, multitasking adalah sebuah privilege karena tidak semua orang bisa fokus pada satu pekerjaan. Ada yang dipaksa melakukan multitasking karena tuntutan. (Mungkin aku akan membuat artikel khusus tentang ini, lain kali.)
3. Menyederhanakan kegiatan harian. Lakukanlah kegiatan yang memang wajib dikerjakan (misalnya ; mencari nafkah, mengasuh anak atau orang tua, beribadah). Kerjakanlah sesuatu yang bermanfaat, seperti ; olahraga untuk kesehatan tubuh, journaling untuk kesehatan mental, Quality Time bersama orang-orang terkasih untuk mempererat hubungan. Kemudian nikmatilah hobi agar tetap berbahagia dengan mempertimbangkan waktu tanpa mengorbankan waktu istirahat.
4. Tetapkan batasan untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Ingat, kita manusia dan manusia tidak sempurna. Kita tidak perlu memaksa diri untuk mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Tidak perlu mengambil sebuah tanggung jawab jika memang diluar kemampuan. Jangan melakukan sesuatu hanya untuk disukai orang lain, hanya karena takut dengan omongan mereka. Jangan biarkan orang lain memaksa kita mengubah prinsip hidup kita. Allah saja tidak pernah memaksa makhluk-Nya untuk menyembah-Nya, jadi kenapa kita harus takluk dan mengubah prinsip hidup demi orang lain?.
5. Hindari perilaku impulsif. Pikirkan matang sebelum membuat keputusan. Sejujurnya aku juga masih berjuang dalam beberapa hal di tahap ini. Mungkin lain kali juga akan aku bahas di artikel lain.
6. Miliki motto. Motto hidupku adalah "hidup adalah sebuah proses berpikir dan belajar, kemudian menarik kesimpulan."
Dengan memiliki motto seperti ini kita akan cenderung berpikir daripada impulsif, kita akan bertumbuh karena terus belajar, hingga pada akhirnya orang yang konsisten menjalani hal ini akan berada di altar kebijaksanaan dan bisa jadi juga akan menularkannya kepada orang lain.
Itulah beberapa cara menerapkan slow living, mungkin aku akan melanjutkannya di artikel lain atau aku akan mengupas hal-hal lainnya tentang slow living. Jangan lupa berlangganan :)

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih Sudah Membaca :)
Mohon berkomentarlah dengan kata-kata yang baik.