Review Novel The Midnight Library | Rekomendasi Untuk Pejuang Mental

 


Hi, book lovers ! 

Sebagai bookworm, tentu aku punya buku favorit yang berkesan dan maybe juga mengubah cara pandang ku terhadap kehidupan dan dunia ini. Kali ini aku mau membahas satu novel favorit yang menurutku banyak pelajaran hidupnya, yaitu... The Midnight Library yang ditulis oleh Matt Haig. 


Kenalan dulu yuk sama penulisnya !


Matt Haig lahir pada 3 juli 1975 dan dibesarkan di Nottinghamshire. Ia mempelajari sastra inggris dan sejarah di Hull University. Istrinya bernama Andrea Semple dan dari pernikahan itu mereka sudah memiliki dua orang anak. 


Ada hal menarik dari kisah perjalanan hidup Matt Haig. Pada umur 24 tahun, ia pernah mengalami gangguan depresi berat dan gangguan kecemasan, ia nyaris bunuh diri kala itu. Dari kisah perjalanan hidup inilah dia kerap menulis buku fiksi maupun non fiksi yang berkaitan dengan kesehatan mental dan ia memiliki filosofi hidup sendiri, kisah di usia 24 tahun ini menjadi titik balik hidup dan takdir karirnya.


Matt Haig telah menjadi sosok penting yang suaranya hampir selalu didengar dalam membicarakan topik kesehatan mental. Buku-bukunya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, menginspirasi, dan memotivasi.


Berikut beberapa karya Matt Haig; The Humans, Reasons To Stay Alive, How to Stop Time, Notes On A Nervous Planet, The Midnight Library, The Comfort Book, dan beberapa buku yang lain. 


Buku Matt Haig yang aku baca pertama kali, membuat aku jatuh cinta dengan karyanya dan sangat berkesan adalah sebuah novel yang berjudul The Midnight Library.


The Midnight Library karya Matt Haig diterbitkan pertama kali pada tahun 2020 oleh penerbit Canongate Books dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama pada tanggal 09 Juni 2021. Genre utama novel ini adalah fantasi, filosofis, dan psikologis.


Novel setebal 368 halaman ini mengajak pembaca menyelami kisah seorang wanita dewasa yang mengalami depresi, kesepian, hilang arah, dan penyesalan dalam hidup. Wanita itu juga sempat mencoba bunuh diri. Kemudian pembaca diarahkan untuk berfantasi mengikuti wanita itu masuk ke dalam perpustakaan yang hanya ada pada pukul tengah malam dan memasuki kehidupan magis. 


Matt Haig punya banyak kalimat menyentuh dalam setiap bukunya.

Berikut beberapa kutipan menyentuh buku novel The Midnight Library karya Matt Haig ;

1. Kau tidak perlu mengerti kehidupan, kau hanya perlu hidup 


2. Bukan kehidupan yang belum kita jalani yang menyiksa kita. Tapi penyesalan atas keputusan yang kita buat


3. Tidak perlu memainkan semua permainan untuk tahu seperti apa rasanya menang


4. Kamu tak bisa hidup dalam semua kemungkinan. Tapi kamu bisa memilih satu dan menjalaninya dengan sepenuh hati


5. Kamu lebih dari cukup. Bahkan saat kamu tidak merasa begitu


6. Yang membuat hidup berharga bukanlah hasilnya, tapi prosesnya


7. Semua orang menyimpan duka. Tapi tidak semua orang berhenti hidup karenanya


8. Kehidupan itu tidak pernah hitam putih. Selalu ada abu-abu yang mengajarkan kita


9. Setiap kehilangan adalah peluang untuk menemukan kembali


10. Yang kita perlukan bukan hidup baru, tapi pandangan baru atas hidup yang kita miliki


Ulasan pribadi :

Aku suka banget novel karya Matt Haig yang satu ini. Bukan hanya karena cerita dan penyampaiannya yang indah, tapi karena perasaan di buku ini relate dengan apa yang pernah aku rasakan, kalimat-kalimatnya begitu menyentuh dan membangun kembali semangat hidup.


Bagiku, novel Midnight Library ini bukan hanya bacaan fiksi yang menarik, tapi juga sebagai cara healing, memperoleh banyak insight, dan sebuah usaha bertahan dalam kehidupan yang kadang tidak baik-baik saja. Momen-momen paling berkesan ketika membaca buku ini adalah ketika tokoh utama wanitanya mencoba bunuh diri dan beberapa halaman terakhir. Aku tidak ingin spoiler, jadi silahkan dibaca saja.. aku jamin kamu tidak akan menyesal !

Buku ini juga sudah masuk ke dalam daftar bestseller New York Times dan sudah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa, bahkan kabarnya sedang dalam tahap pengembangan untuk diadaptasi menjadi sebuah film. 


Yang menjadi titik balik hidupku setelah membaca buku ini adalah sebuah narasi yang mengatakan ;


"Yang kita perlukan bukan hidup baru, tapi pandangan baru atas hidup yang kita miliki."


Kala itu aku menyadari bahwa Allah tidak pernah salah menggariskan hidupku, aku hanya perlu melihat kehidupan ini dari sisi yang berbeda agar tidak terjebak dalam perasaan negatif dan ingin menyerah. Tidak ada yang benar-benar bisa mengubah diri kita selain diri kita sendiri. Ketika membaca buku ini, aku merasa terserap dalam kalimat-kalimatnya dan menginginkan perubahan atas kehendakku sendiri. Aku belajar memaafkan masa lalu, sebagaimana tokoh utama novel ini mencoba berdamai dengan masa lalunya. Aku belajar bersyukur dan menerima hal-hal kecil yang datang ke dalam hidupku sebelum hal-hal kecil itu terlambat untuk aku sadari dan membuatku merasakan kehilangan nantinya, memang sulit untuk menjadi mindful dan selalu bersyukur, tapi ini layak bahkan harus kita coba. Aku belajar berhenti menggantungkan harapan yang tidak realistis namun tetap bermimpi dan berusaha melakukan hal-hal terbaik yang dapat aku lakukan. 


Aku sangat merekomendasikan buku ini kepada orang-orang yang sedang mengalami depresi, disesakkan oleh penyesalan, orang-orang yang hendak membuat keputusan, orang-orang yang sedang berjuang dalam hal apapun, dan siapa saja yang sedang menyelami isu mental health.


Terima kasih sudah membaca sampai akhir, terima kasih sudah bertahan dalam hidupmu sampai sekarang, terima kasih s

udah berani untuk tetap melihat dunia. Bangga padamu !


Komentar