Catatan Seorang Penyintas Bipolar

    Masa kecilku dihantui oleh penyakit mental yang bernama Bipolar Disorder, sebuah penyakit yang memengaruhi suasana hati. Hal itu terjadi karena aku terlahir di keluarga yang tidak harmonis dan lingkungan pertemanan yang kurang baik. Aku harus sering bertemu dengan psikiater dan akrab dengan pil mungil. Aku kira dengan dibawa pergi berobat akan semakin memperbaiki suasana hatiku, namun ternyata hanya karena aku mendatangi rumah sakit jiwa, aku jadi dianggap gila oleh teman-temanku dan semakin senang mereka melakukan bully terhadapku. Aku menjadi anak penyendiri.

    Kendatipun begitu, seiring bertumbuh dewasa, aku memiliki motivasi kuat untuk sembuh, aku mulai membuka diri kepada orang-orang tertentu yang aku anggap mereka adalah pribadi yang positif yang tidak akan melakukan hal-hal tercela seperti teman-temanku yang kerap membully. Motivasiku berawal dari hobi membaca, aku senang sekali membaca dan aku mendapatkan motivasi dari buku-buku yang pernah aku baca. Aku juga sering bertukar pikiran dengan orang-orang dewasa yang aku anggap peduli.

    Ketika merasa cukup yakin untuk bangkit dan sembuh tanpa bergantung kepada obat-obatan, aku membuang obatku. Pada awalnya memang berat, aku merasa kehidupan ini begitu berantakan. Disaat seperti itu, aku menemukan tujuan hidupku. Aku mulai mencari Tuhanku, meski terlahir sebagai muslimah, akan tetapi aku tidak lantas langsung percaya karena aku adalah anak yang cukup kritis, aku sempat agnostik hingga akhirnya aku kembali memercayai Allah sebagai Tuhanku dan islam agamaku. Aku menjadi seorang muslimah yang  lebih taat daripada sebelum aku menjadi seorang agnostik. Mungkin perjalanan agnostik ini akan aku ceritakan lain kali.

    Sejak aku islam kembali, aku mengenakan pakaian syar'i dan kemudian memakai cadar, aku mempelajari agama islam lebih dalam lagi. Takdir yang Allah tuliskan untukku mempertemukan aku dengan orang-orang baik yang dapat menginspirasiku menjadi orang yang lebih positif. Aku terus berusaha dekat dengan Allah dan terus berusaha menjadi orang yang positif, sehingga aku merasa bahwa aku telah sembuh. Jiwaku lebih tenang dan aku menjadi lebih mampu berdamai dengan masalalu, dengan inner child ku yang pernah terluka.

    Aku terus berusaha menjadi orang yang mampu menginspirasi orang lain, aku bahagia ketika ada yang mengaku terinspirasi oleh apa yang aku tulis, aku terus berkarya walaupun sebagian orang tidak menghargai karyaku. Aku menghormati diriku sendiri ketika ada yang datang kepadaku untuk mengadukan masalah mereka. Mereka membuatku menyadari bahwa pengalaman buruk yang aku miliki adalah anugrah dan pelajaran hidup yang dapat aku bagikan dimasa sekarang. Jika aku tidak pernah mengalami hal-hal buruk itu, mungkin aku tidak akan memahami apa yang mereka rasakan. 

    Selain itu, aku juga terus melakukan terapi mandiri dengan cara menulis apapun yang aku rasakan dan pikirkan. Cara ini aku ketahui dari sebuah artikel yang pernah aku baca, karena memang hobi menulis juga, aku mempraktekkannya. Ternyata cara ini cukup ampuh, usai menulis apa yang aku rasa dan pikirkan, hatiku menjadi lebih lega dan beban yang ada dipikiran terasa berkurang, aku juga lebih mampu memetakan masalah dan mencari solusi ketika menuliskannya. 

#Nanda Fadhila Putri

Komentar