Sebagai pelaku nikah muda, saya juga kerap menerima curhat para gadis yang ingin menikah muda. Hal-hal yang sering saya katakan adalah "Menikahlah dengan laki-laki yang tidak merenggut impianmu, menikahlah dengan laki-laki yang selalu memberikan dukungannya terhadap visi dan misimu untuk mencapai tujuan hidupmu. Menikahlah dengan laki-laki yang bisa menemanimu untuk terus bertumbuh."
Kenapa? Karena zaman sekarang, harga diri perempuan adalah Value. B*llsh*t omongan orang yang mengatakan "perempuan nggak perlu sekolah, nggak perlu punya karya. Nggak perlu pintar, yang penting sholehah. Paling ujung-ujungnya cuma di rumah aja, ngurus anak dan suami."
Walaupun ujungnya cuma di rumah, tidak menghasilkan uang, perempuan harus pintar, harus cerdas, harus punya value selain sholehah. Karena betapa banyak perempuan sholehah yang tidak punya hal lain jadi tidak dihargai. Dianggap tidak tahu apa-apa, jadi sang suami boleh melakukan apapun seenak dirinya. Ketika suaminya bosan, lantas ia dibuang atau sekedar dijadikan pajangan di dalam rumah, perempuan tersebut hanya bisa diam dan bertahan hanya untuk bertahan hidup. Berkebalikan, jika yang di rumah itu adalah perempuan yang setara dengan diri laki-laki, yang sebenarnya juga bisa mandiri dan menjadi saingan lelaki dalam mencari materi tapi memilih mengabdi kepada keluarga, lelaki akan berpikir berulang kali sebelum menginjak harga diri perempuan. Mungkin tidak semua laki-laki akan demikian, tapi kita tidak pernah tahu hal apa yang akan terjadi kedepannya. Islam memang membatasi perempuan bekerja, namun tidak membatasi perempuan belajar.
Saya punya banyak resolusi hidup yang ingin saya raih, saya tahu dengan menikah mungkin saja saya kehilangan banyak kesempatan, tapi saya tidak takut karena lelaki saya tidak pernah melarang saya untuk bertumbuh dan berkarya. Katanya, "yang penting tahu prioritas dan ada uang." 😁 Saya menikah usai UAS semester 3, sebelum menikah saya sampaikan ingin tetap melanjutkan kuliah. Dia mengatakan, "InsyaAllah lanjut kuliah kalau ada uang." Alhamdulillah Allah beri rezeki hingga saya lulus tepat waktu di semester 8. Hamil anak pertama ketika masih kuliah dengan kehamilan yang berat, terkadang dia membantu mengerjakan tugas kuliah saya, ketika mengurus skripsi dan bimbingan, dia beserta anak pertama saya yang masih bayi ketika itu selalu setia mengantar saya ke kampus, hujan panas pun kami tempuh bersama-sama bahkan sampai mencari dosen ke rumahnya. Ketika wisuda, hamil lagi anak kedua. Selain itu, suami juga selalu mendukung saya menulis buku, membantu menjualkan buku saya yang berjudul Mahabbah Azzahra Syuhada, sekarang pun ikut menulis buku bersama saya. Mengetahui hobi menulis saya, dia mengatakan, "yang penting anak-anak diurus, setelah itu boleh nulis."
Saya juga ingin melanjutkan kuliah s2, akan tetapi kali ini saya yang mengalah dan mendahulukan suami menyelesaikan kuliah s2 nya karena keterbatasan biaya. Selama ini suami sudah memberikan dukungan kepada saya, dan kali ini saya juga akan memberinya kesempatan bertumbuh. Semoga nanti, saya juga bisa mengikuti jejaknya.
Saya juga ingin melanjutkan kuliah s2, akan tetapi kali ini saya yang mengalah dan mendahulukan suami menyelesaikan kuliah s2 nya karena keterbatasan biaya. Selama ini suami sudah memberikan dukungan kepada saya, dan kali ini saya juga akan memberinya kesempatan bertumbuh. Semoga nanti, saya juga bisa mengikuti jejaknya.
Saya merasakan, pernikahan itu berat, tapi jika dilalui bersama orang yang tepat, semua akan baik-baik saja. Lelaki saya juga punya kekurangan yang tidak perlu saya sebutkan disini, setiap oran punya kekurangan, akan tetapi dia juga hadiah dari Allah. Bersamanya saya bertumbuh dan semoga terus bertumbuh. Menjadi ummi dan abi hebat yang dapat dibanggakan anak-anak kami nantinya.
😍👍👍
BalasHapus:)
Hapus